Dunia pesantren selalu menyimpan keunikan tersendiri dalam membentuk karakter para santrinya. Salah satu praktik yang paling ikonik dan sarat akan makna adalah cara para santri mengonsumsi makanan harian mereka. Di Pondok Pesantren (Ponpes) Ihya Ulumuddin, terdapat sebuah tradisi yang terus dijaga kelestariannya hingga saat ini, yakni tradisi makan berjamaah. Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas mengisi perut, melainkan sebuah instrumen penting untuk pererat ukhuwah di antara sesama pencari ilmu.
Makan berjamaah di Ponpes Ihya Ulumuddin biasanya dilakukan dengan menggunakan nampan besar atau talam, di mana satu wadah tersebut digunakan untuk empat hingga lima orang santri. Fenomena ini menciptakan pemandangan yang menyentuh, di mana perbedaan latar belakang sosial, suku, dan daerah asal melebur menjadi satu di hadapan sepiring nasi yang sama. Di sinilah letak kekuatan utama dari tradisi makan yang diajarkan sejak zaman salaf. Tidak ada sekat antara santri senior maupun junior; semua duduk melingkar dengan derajat yang sama sebagai hamba Allah.
Secara filosofis, makan dalam satu wadah mengajarkan tentang keberkahan. Sesuai dengan anjuran dalam banyak riwayat, berkumpul saat makan akan mendatangkan keberkahan yang lebih besar dibandingkan makan sendirian. Di Ihya Ulumuddin, para santri diajarkan untuk saling mendahului dalam memberikan porsi lauk yang lebih baik kepada temannya. Hal ini secara tidak langsung menanamkan sifat itsar atau mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi. Inilah cara paling organik untuk membangun empati di lingkungan Ponpes Ihya Ulumuddin.
Namun, manfaat dari pererat ukhuwah ini tidak berhenti pada urusan spiritual saja. Dari sisi sosial, saat-saat makan berjamaah menjadi ruang komunikasi yang sangat efektif. Di tengah padatnya jadwal pengajian dan sekolah formal, waktu makan adalah momen di mana santri bisa saling bertukar cerita, berkeluh kesah, atau sekadar bercanda ringan. Komunikasi yang terjalin secara alami ini meminimalisir potensi konflik dan friksi antar santri. Jika terjadi kesalahpahaman di kelas, biasanya masalah tersebut akan mencair saat mereka kembali duduk melingkar untuk makan bersama.