Dunia teknologi pada tahun 2026 telah mencapai titik di mana kecerdasan buatan (AI) tidak hanya membantu pekerjaan teknis, tetapi juga mulai mengambil keputusan-keputusan yang bersifat etis. Di tengah perdebatan global mengenai regulasi mesin pintar ini, sebuah fenomena menarik muncul dari dunia pesantren di Indonesia. Para Santri Ihya Ulumuddin mulai melakukan sebuah eksperimen intelektual yang berani: menguji moralitas dan algoritma pengambilan keputusan AI menggunakan pisau analisis ilmu fiqih klasik. Langkah ini dianggap sebagai jembatan penting untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas yang kokoh.
Dalam keseharian di pesantren pada tahun 2026, para Santri Ihya Ulumuddin tidak hanya berkutat dengan kitab kuning dalam makna tradisional. Mereka menggunakan metodologi Bahtsul Masail untuk membedah kasus-kasus dilema moral yang sering dihadapi oleh pengembang AI. Misalnya, bagaimana sebuah mobil otonom harus memutuskan tindakan dalam situasi kecelakaan yang tak terhindarkan. Dengan merujuk pada kaidah-kaidah fiqih seperti Al-Mashlahah al-Mursalah (kepentingan umum) dan Ad-Dararu Yuzal (bahaya harus dihilangkan), para santri ini mencoba menyusun sebuah kerangka etis yang bisa diintegrasikan ke dalam bahasa pemrograman mesin masa depan.
Pengujian moralitas AI ini menjadi sangat relevan karena pada tahun 2026, banyak sistem AI yang mulai menunjukkan bias atau keputusan yang tidak memihak pada keadilan sosial. Santri Ihya Ulumuddin melihat bahwa ilmu fiqih klasik memiliki khazanah logika yang sangat kaya untuk menjawab persoalan tanggung jawab hukum (khitobul taklif) pada entitas non-manusia. Mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan fundamental: Siapa yang memikul tanggung jawab atas kesalahan algoritma? Apakah sebuah sistem cerdas bisa dikategorikan memiliki “niat” dalam tindakannya? Jawaban-jawaban ini dicari melalui perbandingan literatur klasik dengan arsitektur jaringan saraf tiruan (neural networks).
Selain fokus pada aspek hukum, para Santri Ihya Ulumuddin juga menekankan pentingnya aspek akhlak dalam interaksi manusia dengan mesin. Di tahun 2026, banyak orang mulai memperlakukan asisten virtual sebagai entitas yang bisa disuruh tanpa batas, yang secara tidak sadar bisa mengikis rasa empati antar manusia. Pesantren ini mengajarkan bahwa teknologi harus dipandang sebagai alat (wasilah), bukan tujuan (ghayah). Dengan menerapkan prinsip-prinsip tasawuf dalam berinteraksi dengan teknologi, mereka berupaya menciptakan generasi yang tetap santun dan beradab meskipun hidup dikelilingi oleh kecanggihan mesin yang serba otomatis.