Menjaga hafalan Al-Quran adalah sebuah perjuangan seumur hidup yang memerlukan disiplin tinggi dan metode yang tepat. Di lingkungan Pondok Pesantren Ihya Ulumuddin, tradisi menjaga kemurnian hafalan ini dilakukan melalui sebuah agenda rutin yang melibatkan seluruh santri tanpa terkecuali. Kegiatan Murojaah Mingguan bukan sekadar pengulangan ayat, melainkan sebuah proses pemantapan makhorijul huruf dan kelancaran bacaan yang dipantau langsung oleh para asatidz. Dalam suasana yang khusyuk, para santri saling menyimak hafalan satu sama lain, menciptakan ekosistem spiritual yang mendukung pertumbuhan karakter qurani di dalam asrama.
Untuk membentuk pribadi yang tidak hanya hafal secara tekstual tetapi juga cakap dalam berorganisasi, Ponpes Ihya Ulumuddin juga menerapkan praktik kepemimpinan melalui sistem pengurus asrama bergilir bagi para santrinya. Hal ini bertujuan agar para penjaga wahyu ini memiliki bekal manajerial yang baik saat mereka terjun ke masyarakat nantinya. Fokus utama dari program rutin ini adalah bagaimana para pengajar di Ponpes Ihya Ulumuddin secara konsisten melakukan evaluasi guna perkuat hafalan Quran agar tidak mudah luntur oleh waktu. Hafalan yang kuat diperoleh dari pengulangan yang terus-menerus dan pemahaman mendalam terhadap ayat-ayat yang dipelajari setiap harinya.
Metode muroja’ah yang diterapkan sangat bervariasi untuk menghindari kejenuhan. Ada saatnya santri melakukan muroja’ah secara berpasangan (tasm’), di mana satu santri membaca dan yang lain menyimak dengan teliti untuk mengoreksi kesalahan kecil sekalipun. Ada pula sesi muroja’ah jama’i yang dilakukan bersama-sama di masjid pesantren setelah waktu subuh, memanfaatkan udara pagi yang segar untuk meningkatkan daya ingat. Para para santri diajarkan bahwa menjaga hafalan jauh lebih sulit daripada memulai hafalan baru, sehingga memerlukan kesabaran ekstra dan niat yang tulus karena Allah SWT.
Pentingnya kegiatan mingguan ini juga terletak pada motivasi yang diberikan oleh para pengasuh pondok. Dalam setiap sesi, sering kali disisipkan kisah-kisah inspiratif tentang para ulama terdahulu yang menjaga hafalannya hingga akhir hayat. Hal ini membangkitkan semangat para santri untuk tidak menyerah meskipun menghadapi ayat-ayat yang sulit dihafal. Penekanan pada kualitas bacaan dibandingkan kuantitas menjadi prinsip utama di Ihya Ulumuddin; lebih baik menghafal satu halaman dengan mutqin (kuat/lancar) daripada menambah banyak hafalan namun sering lupa.