Melawan FOMO bukan berarti kita harus menutup diri sepenuhnya dari teknologi, melainkan bagaimana kita mengatur cara pandang atau mindset terhadap apa yang kita lihat. Dalam perspektif santri, dunia digital hanyalah sarana, bukan tujuan utama. Kitab Ihya mengajarkan tentang konsep qana’ah (merasa cukup) dan zuhud (tidak diperbudak dunia). Ketika seorang santri memahami bahwa setiap pencapaian orang lain yang tampak di media sosial adalah takdir yang berbeda, maka rasa cemas karena tertinggal tren atau gaya hidup orang lain akan terkikis dengan sendirinya. Hal inilah yang membuat pola hidup pesantren tetap relevan bahkan di tahun 2026.
Salah satu bab dalam Ihya Ulumuddin yang sangat krusial dipelajari saat ini adalah tentang bahaya lisan dan penglihatan. Di era digital, “lisan” bertransformasi menjadi jempol yang mengetik komentar, dan “penglihatan” menjadi aktivitas scrolling tanpa henti. Santri diajarkan untuk melakukan filtrasi terhadap apa yang masuk ke dalam pikiran mereka. Jika sebuah informasi tidak membawa manfaat bagi akhirat maupun dunianya, maka meninggalkannya adalah sebuah kemuliaan. Inilah bentuk perlawanan terhadap FOMO yang paling elegan: yakni kesadaran bahwa tidak semua hal yang viral layak untuk diikuti atau diketahui.
Kedisiplinan santri dalam mengatur waktu antara ibadah, belajar, dan beristirahat secara manual menciptakan sebuah ritme hidup yang stabil. Saat orang di luar sana merasa gelisah jika tidak memegang ponsel selama satu jam, santri justru terbiasa dengan ketenangan saat mendaras kitab atau melakukan wirid. Kemampuan untuk fokus pada momen saat ini (living in the moment) adalah kunci utama untuk bebas dari kecemasan digital. Fokus pada pengembangan diri di dalam pondok lebih berharga daripada mengejar validasi semu di kolom komentar.
Secara sosiologis, komunitas santri memberikan dukungan moral yang kuat. Hubungan antarsantri yang didasari oleh rasa persaudaraan tulus mengurangi kebutuhan akan pengakuan dari orang asing di internet. Mereka merasa “cukup” dengan interaksi nyata yang penuh berkah. Oleh karena itu, mempraktikkan ajaran Imam Al-Ghazali di era modern ini adalah sebuah langkah revolusioner. Santri yang menguasai nilai-nilai dalam kitab Ihya akan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh secara mental, tidak mudah terombang-ambing oleh tren sesaat, dan mampu menggunakan teknologi secara bijak tanpa kehilangan jati diri spiritualnya.