Ihya Ulumuddin 2026: Mengapa Santri Kini Sulit Menangis?

Memasuki tahun 2026, sebuah keresahan batin mulai dirasakan oleh para pengasuh di berbagai lembaga pendidikan Islam tradisional. Salah satu fenomena yang paling menonjol adalah apa yang terjadi di lingkungan Ihya Ulumuddin, di mana para Kyai mulai mempertanyakan kondisi spiritual para muridnya. Muncul sebuah pertanyaan besar: mengapa santri kini seolah kehilangan kelembutan hati yang biasanya ditandai dengan tetesan air mata saat berzikir atau mengaji? Fenomena sulit menangis ini bukan sekadar masalah emosional, melainkan dianggap sebagai indikator adanya pergeseran cara pandang dan gangguan dari dunia luar yang semakin gencar merambah dinding-dinding pesantren.

Dahulu, menangis karena takut kepada Allah atau karena rindu kepada Rasulullah adalah hal yang lumrah ditemukan di sepertiga malam. Namun, di tahun 2026, gempuran arus informasi digital yang masuk melalui celah-celah teknologi mulai mengalihkan fokus batin para pemuda. Meskipun penggunaan gawai dibatasi, residu dari budaya populer yang serba cepat dan instan telah membuat pikiran para santri kini menjadi lebih pragmatis dan kering. Mereka lebih banyak menghabiskan energi untuk berlogika dibandingkan mengasah rasa (dzauq). Kondisi sulit menangis ini diduga kuat akibat hati yang mulai tertutup oleh kesibukan duniawi yang halus, yang membuat mereka kehilangan kepekaan terhadap makna-makna mendalam dari kitab suci yang mereka baca setiap hari.

Para pengajar di Ihya Ulumuddin mencoba menganalisis masalah ini melalui pendekatan kitab-kitab klasik. Mereka menemukan bahwa pola makan dan pola tidur yang tidak lagi sejalan dengan disiplin riyadhah masa lalu turut memengaruhi kondisi batiniah. Ketika asupan informasi dan makanan tidak lagi disaring dengan ketat secara syubhat, maka hati akan membatu. Akibatnya, saat dibacakan ayat-ayat peringatan, tidak ada lagi resonansi batin yang menghasilkan air mata. Mengapa hal ini terjadi? Karena santri kini terlalu banyak terpapar oleh narasi kesuksesan materi yang membuat orientasi akhirat mereka bergeser secara perlahan tanpa disadari.

Selain faktor teknologi, tekanan persaingan akademik yang semakin kompetitif di tahun 2026 membuat banyak santri merasa stres secara mental namun kosong secara spiritual. Mereka bisa menghafal ribuan bait nadham, namun gagal merasakan keindahan di baliknya.