Di tengah arus modernisasi pendidikan, pesantren tetap teguh menjaga tradisi keilmuan Islam yang khas. Salah satu metode pembelajaran klasik yang menjadi tulang punggung sistem ini adalah bandongan. Metode ini bukan sekadar cara penyampaian ilmu, melainkan sebuah ritual akademik yang mendalam, membentuk karakteristik intelektual dan spiritual para santri dalam menggali khazanah Kitab Kuning.
Bandongan adalah metode pengajian Kitab Kuning (kitab-kitab klasik berbahasa Arab yang ditulis oleh ulama terdahulu) di pesantren, di mana seorang Kiai atau guru membacakan, menerjemahkan, dan menjelaskan isi kitab kepada sekelompok santri. Para santri menyimak penjelasan tersebut sambil menuliskan makna atau catatan di sela-sela baris kitab mereka sendiri. Metode ini sangat efektif untuk transfer ilmu secara massal dan mendalam. Suasana pengajian bandongan biasanya sangat khidmat, seringkali diadakan di masjid atau aula pesantren, dimulai setelah salat subuh atau isya, dan dapat berlangsung selama berjam-jam. Misalnya, di Pondok Pesantren Al-Falah di Kediri, pada Rabu, 23 Juli 2025, pengajian bandongan kitab Ihya’ Ulumiddin dimulai pukul 05.00 pagi dan diikuti oleh ratusan santri yang tekun menyimak setiap kata dari Kiai.
Kunci efektivitas bandongan terletak pada peran sentral Kiai. Kiai tidak hanya menerjemahkan teks Arab ke bahasa yang dipahami santri (misalnya Bahasa Jawa pegon atau Bahasa Indonesia), tetapi juga menjelaskan konteks, relevansi, dan implementasi dari ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Pemahaman Kiai yang mendalam atas berbagai disiplin ilmu, seperti nahwu (tata bahasa Arab), shorof (morfologi), fiqih (hukum Islam), dan tasawuf (mistisisme Islam), memungkinkan beliau untuk memberikan penjelasan yang komprehensif dan mencerahkan. Santri mendapatkan pemahaman yang utuh, tidak hanya dari segi bahasa, tetapi juga dari aspek syariat, akhlak, dan hikmah.
Selain itu, sistem bandongan juga melatih konsentrasi dan daya ingat santri. Mereka harus fokus menyimak ucapan Kiai, memahami maknanya, dan mencatat poin-poin penting. Proses ini membangun kedisiplinan mental dan kemampuan untuk menyerap informasi dalam jumlah besar. Kehadiran fisik di majelis bandongan juga menanamkan adab dan rasa hormat santri kepada ilmu dan guru. Lingkungan yang tenang dan fokus membantu santri benar-benar tenggelam dalam lautan ilmu yang disampaikan.
Meskipun terlihat tradisional, metode bandongan memiliki relevansi yang kuat hingga saat ini. Di era informasi yang serba cepat, bandongan mengajarkan pentingnya belajar dari sumber yang otoritatif dan mendalami ilmu secara bertahap. Ini membentuk mental santri yang tidak mudah puas dengan informasi permukaan, melainkan selalu berusaha menggali kedalaman ilmu. Melalui bandongan, pesantren terus mencetak generasi ulama dan cendekiawan Muslim yang kokoh dalam ilmu agama dan memiliki akhlak yang mulia.