Fenomena anak jalanan di kota-kota besar sering kali menjadi potret kompleksitas sosial yang sulit diurai. Banyak dari mereka kehilangan akses pendidikan formal dan kasih sayang keluarga, sehingga terjebak dalam kerasnya hidup di aspal. Namun, sebuah langkah nyata datang dari Ihya Ulumuddin, yang memilih pendekatan berbeda untuk menyentuh sisi kemanusiaan mereka. Bukan melalui instruksi yang kaku, melainkan melalui kelembutan gerak dan disiplin dalam sebuah sanggar tari.
Langkah ini bukan sekadar aktivitas pengisi waktu luang. Bagi anak jalanan, sanggar ini adalah rumah kedua di mana mereka bisa mengekspresikan emosi yang selama ini terpendam. Menari membutuhkan konsentrasi, koordinasi, dan yang paling penting adalah rasa percaya diri. Dengan merangkul mereka melalui seni, Ihya Ulumuddin mencoba menghapus stigma negatif yang selama ini melekat pada anak-anak yang terbiasa hidup di jalanan.
Strategi rangkul yang dilakukan di sini memiliki dampak psikologis yang mendalam. Kebanyakan anak jalanan memiliki mekanisme pertahanan diri yang kuat karena sering mengalami kekerasan atau penolakan. Seni tari menjadi media “penyembuhan” yang halus. Saat mereka mempelajari pola lantai dan irama, secara tidak langsung mereka belajar tentang keteraturan dan kerja sama tim. Hal inilah yang menjadi pondasi utama bagi pembentukan karakter baru yang lebih positif.
Di dalam sanggar, tidak ada sekat antara latar belakang ekonomi. Fokus utamanya adalah bagaimana mengolah bakat yang terpendam. Banyak dari anak-anak ini yang ternyata memiliki kelenturan tubuh dan kepekaan nada yang luar biasa, namun selama ini tidak pernah mendapatkan wadah. Ihya Ulumuddin menyadari bahwa potensi ini bisa menjadi bekal masa depan mereka. Selain belajar menari, mereka juga diberikan pemahaman tentang nilai-nilai kehidupan dan disiplin waktu yang sangat berguna jika suatu saat mereka ingin kembali ke jalur pendidikan formal atau mencari pekerjaan yang layak.
Keberlanjutan program ini sangat bergantung pada konsistensi pendampingan. Menangani anak jalanan memerlukan kesabaran ekstra karena pola pikir mereka yang cenderung bebas. Oleh karena itu, pendekatan di sanggar tari ini dibuat seorganik mungkin. Tidak ada paksaan untuk langsung menjadi profesional, namun ada dorongan untuk selalu menjadi lebih baik setiap harinya. Melalui aksi nyata ini, masyarakat mulai melihat bahwa dengan penanganan yang tepat, anak-anak yang dianggap “sampah jalanan” bisa bertransformasi menjadi individu yang berdaya dan memiliki apresiasi tinggi terhadap budaya.